Mari Kita berbicara tentang
kita, tentang wanita yang penuh dengan setuja pesona, tentang wanita yang penuh
dengan kelebihan, tentang wanita yang penuh dengan kelembutan, tentang wanita
yang penuh dengan keindahan, dan tentang wanita yang penuh dengan mimpi,
harapan, dan setumpuk doa ketika malam menjelang..
Betapa bahagia dan bangganya
menjadi seorang wanita yang diberi lebih dari sejuta kelebihan oleh Tuhan.
Lihatlah diri kita, berdirilah di depan kaca dan lihatlah sejenak sosokmu
sebagai seorang wanita.. Wanita yang kita lihat itu lah wanita cantik yang penuh
dengan kasih sayang, kelembutan, keteduhan dan keindahan.. Namun dibalik
keindahan dan kelembutannya, wanita selalu menyimpan setumpuk harapan dan doa.
Tataplah dalam-dalam mata itu, rasakan ketulusan dan harapan itu.. Sebuah
harapan dahsyat yang tersembunyi di balik sosoknya yang anggun... Dan lihat
itu, sebuah rahim yang mampu memberikan generasi penerus..
Subhanallah... Betapa
sempurnanya Tuhan telah menciptakan Kita______________wahai para Wanita...
Kodrat dan Kesuksesan
Ø
Kodrat
Wanita memiliki kodrat mutlak
sebagai seorang wanita, seorang istri, dan seorang Ibu. Kata kodrat sering digunakan untuk merepresentasikan peran
perempuan menurut agama, terutama Islam. Sehingga daya ikatnya begitu kuat.
Bila agama sudah mengeluarkan suatu larangan, maka hal tersebut bila dilanggar
dihukumi haram. Seperti yang terdapat dalam kaidah Ushul Fiqh al-ashlu fi
al-Nahyi li al-tahrim (asal dari larangan adalah haram).
Larangan melanggar kodrat bagi seorang perempuan terus dipertahankan sampai
saat ini. Tradisi pemahaman ini mengendap di alam bawah sadar masyarakat. Sehingga
pada saat seorang perempuan ingin mengaktualisasikan dirinya di ranah publik,
maka secara otomastis larangan melanggar kodrat menyertainya.
Pemahaman kata kodrat berpengaruh pada konsepsi perempuan
tentang dirinya. Perempuan cenderung menganggap dirinya tidak sederajat dengan
laki-laki. Hadirnya perempuan hanyalah sebagai pelengkap saja. Eksistensi
perempuan hanya untuk laki-laki. Sehingga wajar saat ini di layar TV sering
kita saksikan perempuan-perempuan yang mempercantik dirinya dan berlomba-lomba
hanya untuk menarik perhatian laki-laki. Bahkan sampai terlibat konflik antar
sesama perempuan demi mendapatkan laki-laki yang dicintai. Seolah itulah tujuan
hidup dan kodrat seorang perempuan.
Konsepsi diri perempuan di atas semakin
menguatkan pandangan dunia yang ada tentang perempuan. Bahwa perempuan memang
mahluk yang lemah, emosional, irasional, matrealis, licik, suka pamer, penggoda
dan pencitraan negative lainnya.
Namun, sadarkah kita bahwa semua
pemahaman itu KELIRU???
Kodrat berasal dari bahasa Arab qadara/qadira-
yaqduru/yaqdiru- qudratan. Dalam kamus al-munjid fil-al-Lughah wa
al-a’lam kata ini diartikan dengan qawiyyun ‘ala al-syai (kuasa
mengerjakan sesuatu), ja’alahu ‘ala miqdarih (membagi sesuatu
menurut porsinya) atau qash-shara (memendekan/membatasi). Dari
akar kata qadara/qadiraini juga lahir kata taqdir (qaddara-yuqaddiru-taqdir)
yang berarti menentukan (ketentuan) atau menetapkan.. Demikian pula dalam kamus
al-Munawwir yang mengartikan qudrah sebagai kekuatan,
kekuasaan dan kemampuan. Dari akar kata ini kaitu kodrat (qudrah) dan
taqdir (taqdir) dalam bahasa Indonesia sering dipakai dalam pengertian
yang sama. Menunjuk pada “apa yang telah ditentukan Tuhan”. Sehingga kata
kodrat dan takdir bermuara pada kekuasaan mutlak Tuhan.
Kata kodrat dalam arti kemampuan, kekuasaan atau sifat
bawaan menunjukan adanya keterlibatan aktif dari si pelaku terhadap apa yang
bisa dilakukannya sendiri. Tanpa bergantung/terkait dengan selain dirinya. Kata
kodrat kemudian lebih bermakana kemampuan yang bersumber dari dalam individu
untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (free will&free act).
Sementara kata takdir (taqdir) dalam arti ketentuan/ketetapan menunjukan
adanya sebuah garis kekuasaan harus tunduk patuh (bahkan tidak mampu mengelak
dari) ketentuan yang berasal dari atas. Seperti pemberian alat kelamin pada
manusia oleh Tuhan yang menentukan seseorang secara biologis laki-laki atau
perempuan tanpa bisa ditawar. Seperti juga kematian yang tak ada seorang pun
bisa mengelak dari takdir ini. Yang menentukan kematian bukan dirinya. Ia
hanyalah menerima apa yang telah ditentukan atas dirinya. Dengan pengertian ini
terlihat jelas bahwa dalam kata “takdir” terdapat 2 pelaku sekaligus. Pertama
adalah yang membuat keputusan. Kedua adalah yang menjalankan keputusan.
Disinilah letak perbedaan kata ‘kodrat” dan “takdir”.
SEORANG Napoleon Bonaparte pernah
ditanya: “Siapakah ibu?” Ia menjawab, “Ibu adalah yang bisa mengayunkan buaian
dengan tangan kanannya dan mengayunkan dunia dengan tangan kirinya.”
Ungkapan
di atas menunjukkan betapa penting peran seorang wanita. Ia bukan hanya sebagai
seorang ibu bagi anak-anaknya. Lebih dari itu, seorang wanita ternyata mampu
mengubah dan mewarnai dunia.
Jadi, jangan pernah menganggap
diri kita lemah ya, Sist.. Kita ini kuat..
Tapi jangan juga sampai melampaui seorang laki-laki yaa, laki-laki tetaplah seorang “Leader”.. Itu juga kodrat mereka..
Tapi jangan juga sampai melampaui seorang laki-laki yaa, laki-laki tetaplah seorang “Leader”.. Itu juga kodrat mereka..
Ø Kesuksesan
Kesuksesan adalah hak bagi siapapun baik itu laki-laki maupun
wanita. Dan tahukan kamu, Ada
tiga sukses yang bisa diperankan wanita;
Pertama, sukses
sebagai ibu bagi anak-anaknya. “Al ummu
madrasatun li auladiha.” Ibu adalah sekolah pertama bagi jiwa dan fisik
anak-anaknya. Pendidikan di dalam rumah (Learning
by Mother) inilah yang akan memberikan kesan mendalam dalam jiwa, (hati,
pikiran dan perasaan) seorang anak yang sangat mempengaruhi pola kehidupannya
kemudian. Potensi fitrah ini dimiliki lebih oleh wanita dibanding pria.
Kedua,
sukses sebagai pendamping setia suami. Wanita adalah penyeimbang bagi pria,
demikian pula sebaliknya. Sebagai suami istri, terdapat hubungan timbal balik
yang harmonis antara keduanya dan akan terjadi proses saling mengisi,
melengkapi dan menyempurnakan.
Seorang
isteri seperti pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi isterinya.
Kelebihan potensi (baik keahlian, ekonomi, sosial) seorang isteri akan menutupi
kekurangan suaminya dan juga sebaliknya. Seorang istri adalah pendorong
kesuksesan suami, begitupun sebaliknya. Seorang isteri sukses adalah yang menyejukkan mata bagi
pandangan suaminya. (QS 30 : 21)
Kita
ingat, betapa seorang Khadijah mampu menentramkan hati sang suami yang tidak
lain adalah Rasulullah, saat beliau ketakutan, gemetar, panas dingin setelah
kedatangan malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu Allah swt. yang pertama.
Patutlah kita sebagai muslimah ber-qudwah pada
ibunda Khadijah, ummul mu’minin.
Dan
ketiga, sukses sebagai anggota masyarakat. Peran yang satu ini mencakup
kedudukannya sebagai anggota masyarakat tempat tinggalnya dan sebagai anggota
masyarakat tempat ia bekerja bagi wanita karir.
Bahkan seorang muslimah
memerankan fungsinya sebagai penyampai risalah Islam dalam pergaulannya,
melakukan tashawwur Islam untuk
memberikan pemahaman yang benar kepada ibu-ibu para tetangganya secara bijak
dan keteladanan (QS 33 : 21 dan QS 3 : 104).
Sebagai
bagian dari masyarakat tempatnya bekerja, seorang wanita dituntut mampu
menunjukkan dedikasinya yang tinggi sebagai seorang pekerja dan sanggup
mewujudkan prestasi kerja yang profesional, bertanggung jawab dan mampu memenej
waktu dan pekerjaannya, baik sebagai karyawan pabrik, pegawai kantor, pengusaha,
apalagi sebagai pimpinan. Mengapa?
Karena
setiap kita adalah pemimpin dan pasti akan mempertanggungjawabkan
kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Rasulullah bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin
akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”
Maka marilah kita sebagai wanita,
mulai detik ini merealisasikan peran-peran kita untuk meraih tiga peran sukses
tersebut tanpa kita melupakan kodrat kita sebagai perempuan.
Sekali
lagi, perempuan berbeda dengan laki-laki. “We
are not equal with them, but we can do together with them,” karena
memang masalah ini adalah tanggung jawab bersama antara pria dan wanita. [Sumber: Majalah Saksi/rki]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar