Translate

Jumat, 11 April 2014

Antara Kodrat dan Mimpi

Mari Kita berbicara tentang kita, tentang wanita yang penuh dengan setuja pesona, tentang wanita yang penuh dengan kelebihan, tentang wanita yang penuh dengan kelembutan, tentang wanita yang penuh dengan keindahan, dan tentang wanita yang penuh dengan mimpi, harapan, dan setumpuk doa ketika malam menjelang..

Betapa bahagia dan bangganya menjadi seorang wanita yang diberi lebih dari sejuta kelebihan oleh Tuhan. Lihatlah diri kita, berdirilah di depan kaca dan lihatlah sejenak sosokmu sebagai seorang wanita.. Wanita yang kita lihat itu lah wanita cantik yang penuh dengan kasih sayang, kelembutan, keteduhan dan keindahan.. Namun dibalik keindahan dan kelembutannya, wanita selalu menyimpan setumpuk harapan dan doa. Tataplah dalam-dalam mata itu, rasakan ketulusan dan harapan itu.. Sebuah harapan dahsyat yang tersembunyi di balik sosoknya yang anggun... Dan lihat itu, sebuah rahim yang  mampu memberikan generasi penerus..
Subhanallah... Betapa sempurnanya Tuhan telah menciptakan Kita______________wahai para Wanita...


Kodrat dan Kesuksesan
Ø   Kodrat

Wanita memiliki kodrat mutlak sebagai seorang wanita, seorang istri, dan seorang Ibu. Kata kodrat sering digunakan untuk merepresentasikan peran perempuan menurut agama, terutama Islam. Sehingga daya ikatnya begitu kuat. Bila agama sudah mengeluarkan suatu larangan, maka hal tersebut bila dilanggar dihukumi haram. Seperti yang terdapat dalam kaidah Ushul Fiqh al-ashlu fi al-Nahyi li al-tahrim (asal dari larangan adalah haram). Larangan melanggar kodrat bagi seorang perempuan terus dipertahankan sampai saat ini. Tradisi pemahaman ini mengendap di alam bawah sadar masyarakat. Sehingga pada saat seorang perempuan ingin mengaktualisasikan dirinya di ranah publik, maka secara otomastis larangan melanggar kodrat menyertainya.

Pemahaman kata kodrat berpengaruh pada konsepsi perempuan tentang dirinya. Perempuan cenderung menganggap dirinya tidak sederajat dengan laki-laki. Hadirnya perempuan hanyalah sebagai pelengkap saja. Eksistensi perempuan hanya untuk laki-laki. Sehingga wajar saat ini di layar TV sering kita saksikan perempuan-perempuan yang mempercantik dirinya dan berlomba-lomba hanya untuk menarik perhatian laki-laki. Bahkan sampai terlibat konflik antar sesama perempuan demi mendapatkan laki-laki yang dicintai. Seolah itulah tujuan hidup dan kodrat seorang perempuan.
Konsepsi diri perempuan di atas semakin menguatkan pandangan dunia yang ada tentang perempuan. Bahwa perempuan memang mahluk yang lemah, emosional, irasional, matrealis, licik, suka pamer, penggoda dan pencitraan negative lainnya. 
Namun, sadarkah kita bahwa semua pemahaman itu KELIRU???
Kodrat berasal dari bahasa Arab qadara/qadira- yaqduru/yaqdiru- qudratan. Dalam kamus al-munjid fil-al-Lughah wa al-a’lam kata ini diartikan dengan qawiyyun ‘ala al-syai (kuasa mengerjakan sesuatu), ja’alahu ‘ala miqdarih (membagi sesuatu menurut porsinya) atau qash-shara (memendekan/membatasi). Dari akar kata qadara/qadiraini juga lahir kata taqdir (qaddara-yuqaddiru-taqdir) yang berarti menentukan (ketentuan) atau menetapkan.. Demikian pula dalam kamus al-Munawwir yang mengartikan qudrah sebagai kekuatan, kekuasaan dan kemampuan. Dari akar kata ini kaitu kodrat (qudrah) dan taqdir (taqdir) dalam bahasa Indonesia sering dipakai dalam pengertian yang sama. Menunjuk pada “apa yang telah ditentukan Tuhan”. Sehingga kata kodrat dan takdir bermuara pada kekuasaan mutlak Tuhan.
Kata kodrat dalam arti kemampuan, kekuasaan atau sifat bawaan menunjukan adanya keterlibatan aktif dari si pelaku terhadap apa yang bisa dilakukannya sendiri. Tanpa bergantung/terkait dengan selain dirinya. Kata kodrat kemudian lebih bermakana kemampuan yang bersumber dari dalam individu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (free will&free act). Sementara kata takdir (taqdir) dalam arti ketentuan/ketetapan menunjukan adanya sebuah garis kekuasaan harus tunduk patuh (bahkan tidak mampu mengelak dari) ketentuan yang berasal dari atas. Seperti pemberian alat kelamin pada manusia oleh Tuhan yang menentukan seseorang secara biologis laki-laki atau perempuan tanpa bisa ditawar. Seperti juga kematian yang tak ada seorang pun bisa mengelak dari takdir ini. Yang menentukan kematian bukan dirinya. Ia hanyalah menerima apa yang telah ditentukan atas dirinya. Dengan pengertian ini terlihat jelas bahwa dalam kata “takdir” terdapat 2 pelaku sekaligus. Pertama adalah yang membuat keputusan. Kedua adalah yang menjalankan keputusan. Disinilah letak perbedaan kata ‘kodrat” dan “takdir”.
SEORANG Napoleon Bonaparte pernah ditanya: “Siapakah ibu?” Ia menjawab, “Ibu adalah yang bisa mengayunkan buaian dengan tangan kanannya dan mengayunkan dunia dengan tangan kirinya.”
Ungkapan di atas menunjukkan betapa penting peran seorang wanita. Ia bukan hanya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya. Lebih dari itu, seorang wanita ternyata mampu mengubah dan mewarnai dunia.
Jadi, jangan pernah menganggap diri kita lemah ya, Sist.. Kita ini kuat..         
Tapi jangan juga sampai melampaui seorang laki-laki yaa, laki-laki tetaplah seorang “Leader”.. Itu juga kodrat mereka..
Ø   Kesuksesan
Kesuksesan adalah hak bagi siapapun baik itu laki-laki maupun wanita. Dan tahukan kamu, Ada tiga sukses yang bisa diperankan wanita;
Pertama, sukses sebagai ibu  bagi anak-anaknya. “Al ummu madrasatun li auladiha.” Ibu adalah sekolah pertama bagi jiwa dan fisik anak-anaknya. Pendidikan di dalam rumah (Learning by Mother) inilah yang akan memberikan kesan mendalam dalam jiwa, (hati, pikiran dan perasaan) seorang anak yang sangat mempengaruhi pola kehidupannya kemudian. Potensi fitrah ini dimiliki lebih oleh wanita dibanding pria.
Kedua, sukses sebagai pendamping setia suami. Wanita adalah penyeimbang bagi pria, demikian pula sebaliknya. Sebagai suami istri, terdapat hubungan timbal balik yang harmonis antara keduanya dan akan terjadi proses saling mengisi, melengkapi dan menyempurnakan.
Seorang isteri seperti pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi isterinya. Kelebihan potensi (baik keahlian, ekonomi, sosial) seorang isteri akan menutupi kekurangan suaminya dan juga sebaliknya. Seorang istri adalah pendorong kesuksesan suami, begitupun sebaliknya. Seorang isteri sukses adalah yang menyejukkan mata bagi pandangan suaminya. (QS 30 : 21)
Kita ingat, betapa seorang Khadijah mampu menentramkan hati sang suami yang tidak lain adalah Rasulullah, saat beliau ketakutan, gemetar, panas dingin setelah kedatangan malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu Allah swt. yang pertama. Patutlah kita sebagai muslimah ber-qudwah pada ibunda Khadijah, ummul mu’minin.
Dan ketiga, sukses sebagai anggota masyarakat. Peran yang satu ini mencakup kedudukannya sebagai anggota masyarakat tempat tinggalnya dan sebagai anggota masyarakat tempat ia bekerja bagi wanita karir.
Bahkan seorang muslimah memerankan fungsinya sebagai penyampai risalah Islam dalam pergaulannya, melakukan tashawwur Islam untuk memberikan pemahaman yang benar kepada ibu-ibu para tetangganya secara bijak dan keteladanan (QS 33 : 21 dan QS 3 : 104).
Sebagai bagian dari masyarakat tempatnya bekerja, seorang wanita dituntut mampu menunjukkan dedikasinya yang tinggi sebagai seorang pekerja dan sanggup mewujudkan prestasi kerja yang profesional, bertanggung jawab dan mampu memenej waktu dan pekerjaannya, baik sebagai karyawan pabrik, pegawai kantor, pengusaha, apalagi sebagai pimpinan. Mengapa?
Karena setiap kita adalah pemimpin dan pasti akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Rasulullah bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”
Maka marilah kita sebagai wanita, mulai detik ini merealisasikan peran-peran kita untuk meraih tiga peran sukses tersebut tanpa kita melupakan kodrat kita sebagai perempuan.

Sekali lagi, perempuan berbeda dengan laki-laki. “We are not equal with them, but we can do together with them,” karena memang masalah ini adalah tanggung jawab bersama antara pria dan wanita. [Sumber: Majalah Saksi/rki]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar