27 Desember 2013.. Itu adalah sebuah awal dari semuanya, sebuah awal dari sebuah perjuangan besar yang ada di keluarga kami.
Sore pukul 18.25 semua masih seperti biasa, Papa yang sakit masih tetap bisa sholat bersama kami semua, setelah itu beliau makan. Tapi itu yang tidak biasa, beliau makan jauh lebih banyak dari biasanya, I think... wah, Papa udah sembuh! Alhamdulillah...
Setelah itu Papa tidur seperti biasa, lebih cepat, dan semua terasa baik-baik saja.
Tiba-tiba... tepat pukul 23.45 hampir tengah malam, Mama teriak ketakutan. Di tempat tidur di mana Papa sedang tertiddur pulas, bahkan mendengkur, Mama menangis dan panik. Sesaat itu semuanya beruabah menjadi sebuah kepanikan yang luar biasanya. Dalam kondisi Papa yang masih tertidur pulas dan mendengkur, Papa tidak bisa dibangunkan, beliau tetap pada posisi yang sama sekali tidak bergerak, tapi tetap dalam kondisi mendengkur terus menerus.
Semua panik, termasuk aku.. Ya Allah, apa ini?
Semua terasa begitu singkat, tiba-tiba ambulans datang menjemput kami, tepat Jam 01.00 malam.
Ditengah jalanan yang begitu lengang, ambulans kami melaju dengan begitu cepatt, Rumah Sakit yang biasanya harus di tempuh minimal dalam 2 jam, di malam itu hanya setengah jam saja.
Semua proses yang begitu singkat, semua tindakanku seakan-akan di luar kesadaran, tidak ada setets air mata pun yang jatuh saat semua itu terjadi, Mama yang terisak-isak terus membuatku miris dan terasa begitu perih. Ya Allah, lindungilah Papa.. Berikanlah keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi ini semua.. Hanya itu yang ada dalam pikiranku. Dan Mama terus memelukku begitu erat..
"Ibu, kemungkinan Bapak mengalami pendarahan hebat di otaknya, kami harus bertindak cepat. Mohon tanda tanda tangan kertas persetujuan ini. Kami juga tidak bisa menjamin kalau ini akan berhasil, karena beberapa waktu yang lalu pun ada pasien kami yang menghadap Allah setelah di lakukan tindakan ini. Persentase keberhasilan memang tipis, tapi ini lah satu-satunya tindakan yang harus kita ambil, Bu.. Mohon bantu kami dengan doa dari Ibu dan adek, semoga Allah melindungi Bapak dan kami bisa melakukan semua yang terbaik yang kami bisa"
Kalimat dokter itu selalu terngiang sampai saat ini.. Seakan-akan itu terjadi baru kemarin.
Tapi Alhamdulillah, Semua atas Kuasa ALLAH SWT yang Maha Kuasa atas semuanya, tepat pukul 4.45 pagi saat azan Subuh berkumandang, Dokter keluar dari ruangan dan memberikan berita pada kami..
"Alhamdulillah, Ibu.. ini sebuah mukjizat dari Allah, berkat doa Ibu dan adek, Bapak sudah sadar dan kami tidak memasangkan selang maupun alat-alat lainnya"
Alhamdulillah ya Allah... tidak lama dari itu, Papa keluar dari ruang mengerikan itu menuju ruang perawatan Instalasi Gawat Darurat. Semua alat-alat yang akan di pasang masih menempel di sekujur tubuhnya, begitu mengerikan dan miris. Tapi Alhamdulillah, Papa tidak jadi memakai semua alat itu. Hanya sebuah infus di tangan kanannya.
Beliau sudah sadar, tapi belum bersuara sedikit pun... Beliau hanya melirik aku dan Mama dengan penuh kebingungan yang terlihat di wajahnya.
Setelah itu kami pun langsung Sholat Subuh, mengucapkan rasaa syukur yang tiada tara kepada-Nya.
Subhanallah... semua ini kuasa-Mu ya Allah
Tapi belum cukup sampai di sana... Keadaan Papa masih mengkhawatirkan, kedua kakinya masih tetap bengkak dan tangan serta kepalanya terus gemetar. Sudah satu minggu berlalu berada di ruang UGD tapi Dokter belum juga memperbolehkan kami untuk pindah ke ruang perawatan biasa, dan keadaan Papa pun belum kunjung membaik, terus gemetar, sampai-sampai Papa seringkali menangis dan bertanya "Ya Allah, Papa ngapo, dian?"
dan itu membuat hatiku merasa teriris-iris..
Pada akhirnya, aku berbicara empat mata dengan Dokter mengnai keadaan Papa..
Seperti tersambar petir saat dokter mengatakan "maaf, dek.. sebenarnya kami tidak tega memberitahukan ini. Tapi iya, sepertinya kami harus jujur. Hipertensi bapak yang begitu hebat dan hampir menyerang saraf bahkan ke otak, ternyata Ginjal Bapak yang telah terserang. Bapak mengalami Hipertensi Ginjal/Gagal Ginjal dan Bapak harus segera menjalani Hemodialisa"
Ya Allah, aku langsung lemasss dan untuk kali ini aku tidak sanggup untuk pura-pura tegar. Aku menangis sejadi-jadinya di depan dokter.
Tapi aku percaya, tidak ada yang tidak mungkin atas kehendak Allah SWT. Separah apapun penyakit Papa, InsyaAllah akan diberi kesembuhan oleh Allah SWT.
Aku hanya berharap dengan menulis ini, semua yang membacanya bisa mendoakan kesehatan Papa.
Dan berpesan kepada semuanya untuk terus MENYAYANGI kedua orang tua kita, JANGAN PERNAH membuat mereka menangis dan durhaka pada mereka. Kita tidak pernah tahu kapan dan siapa yang akan menghadap Allah SWT terlebih dahulu... Semua hanya Allah SWT yang mengetahui semua Qodo dan Qodar manusia..
Jangan pernah kita mengabaikan kedua orang tua kita atau nanti kita akan menyesal di kemudian hari karena tidak mampu membahagiakan mereka lagi, atau bahkan meminta maaf kepada mereka atas semua kesalahan kita..
Semoga bermanfaat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar